Boleh Anda menirukan gerakan seorang presenter, motivator, atau pemain
drama saat mengajar. Paling tidak siswa akan tertarik mengikuti alur pelajaran
Anda
Pendidikan menjadi
akar kemajuan bangsa. Di negara manapun, bahkan Jepang pasca peristiwa pemboman
Hiroshima dan Nagasaki, harus berjuang memperbaiki pendidikannya dengan
memperbaiki kualitas para guru yang mereka miliki. Pendidikan menjadi bagian
penting bagi setiap manusia yang hidup di jaman serba modernisasi. Seseorang
yang ingin hidupnya bermanfaat harus menanamkan pendidikan sampai akhir
hayatnya. Begitu pula dikatakan Mahatma Gandhi, Live as if you were to die tomorrow. Learn as if you were to
live forever. Belajar, pendidikan, dan seumur hidup menjadi rangkaian
kata kunci untuk membentuk peradaban bangsa. Kalau hidup hanya untuk makan,
hewan pun bisa, namun jika hidup untuk berpikir maju itulah manusia (Hamka,
1966). Guru menjadi penggerak maju atau tidaknya pendidikan, sehingga
kompetensi seorang pendidik sangat dibutuhkan. Namun bagaimana caranya agar murid
mau dan mampu mendengarkan mengerti serta menerapkan ilmu yang disampaikan oleh
guru?
1. Kontrol, dan Bicaralah!
Ketika Anda memasuki kelas,
akan muncul bermacam-macam karakter yang ditampilkan oleh murid. Ada kelas yang
langsung diam, ada kelas yang masih ramai seperti pasar meski guru sudah duduk
di kursinya. Jika menemui kelas kedua, umumnya seorang guru bisa saja langsung
marah-marah atau mengeluarkan suara keras untuk menghentikan kegiatan di kelas.
Namun guru yang bijak akan memilih diam sejenak 5-10 menit agar murid-murid
merasakan keheningan. Setelah mereka satu persatu mulai mengetahui keberadaan
Anda di dalam kelas, barulah Anda berbicara. Berilah kesan Anda seorang yang
tegas dan bijak. Anda sudah tahu kelakuan mereka, maka berikan sedikit aturan bahwa
murid memiliki waktu yang tepat kapan mereka boleh ramai dan diam, jika hal itu
terjadi lagi boleh Anda memberikan sanksi, tentu yang mendidik.
2. Opening: Motivasi dan Bahasa
Sambutan
Di dalam rencana pembelajaran,
selalu ada langkah-langkah pembelajaran yang harus dilakukan guru. Setelah
mampu mengontrol kelas, Opening, menjadi hal paling penting dalam pembelajaran.
Berilah mereka pembukaan yang hangat, boleh dengan motivasi, lalu tanyakan
hal-hal seputar kehidupan mereka. Contoh: “Bagaimana pagi kalian hari ini?, Hai
kamu, kenapa rambutmu terlihat berantakan? Ah ya, kamu terlihat lebih cantik
atau tampan hari ini!”, ini akan diartikan oleh murid kalau Anda peduli dengan
keadaan mereka. Katakanlah bahwa Anda sangat senang melihat mereka hari ini,
dan sangat mengharapkan mereka menerima dengan baik apa yang Anda sampaikan.
3. Tanyakan mengapa dan
bagaimana
Ketika Anda mulai memasuki
materi, maka jangan pernah bertanya dengan kata tanya ‘apa, kapan, dan dimana’.
Itu hanya diperuntukkan bagi anak usia 1-12 tahun. Khusus untuk anak remaja,
tanyakan ‘mengapa, dan bagaimana’ agar mereka berpikir secara analisis. Untuk ilmu
sosial sebagai contoh: “mengapa manusia hidup? mengapa Pangeran Diponegoro
meninggal?”, atau ilmu alam: “mengapa lampu itu menyala?, bagaimana listrik itu
menyala”. Akan berbeda hasilnya jika Anda bertanya tentang semua pertanyaan itu
dengan kata “Apa,kapan, dimana”, jawabannya tentu verbal dan singkat. Ingat,
mereka bukan anak kecil.
4.
Pakai Body language
Ketika seorang guru sedang
memberikan materi dengan hanya duduk di kelas berjam-jam tanpa ada perubahan
suara atau pergerakan tubuh menurut penelitian University of Berkeley (2015)
Amerika, maka siswa akan cenderung mengantuk dan ingin segera tidur. Alih-alih
memperhatikan, bisa saja mereka justru bercerita sendiri dengan teman
sebangkunya atau bermain gadget. Maka, materi akan lebih menarik jika kita
mampu memanfaatkan bahasa tubuh dan suara yang kita miliki. Berikanlah bahasa
tubuh yang luwes namun tegas. Boleh Anda menirukan gerakan seorang presenter,
motivator, atau pemain drama saat mengajar. Paling tidak siswa akan tertarik
mengikuti alur pelajaran Anda. Menurut Lavinia Plonka, pengarang ‘Walking Your
Talk’ mengatakan bahwa siswa akan semangat mengikuti pelajaran jika gurupun
semangat untuk mengajar.
5. Perhatikan bahasa tubuh
siswa
Jangan pernah mengatakan
pembelajaran Anda sukses hanya dalam satu kali percobaan. Sebagai seorang
pendidik, harus selalu peka terhadap segala kemungkinan perubahan yang terjadi
pada siswa. Ingat, pembelajaran bukan tentang Anda, tapi tentang mereka. Pergerakan
mimik muka, tangan, dan badan siswa akan berubah setiap detiknya. Jika mata
mereka tertuju pada Anda dengan mulut agak melebar, dada kearah depan, dapat
dikatakan bahwa mereka tertarik dengan penjelasan Anda. Namun, bila salah satu
siswa mulai menoleh kearah berlawanan ke kanan/kiri, atau menyela pembicaraan
Anda dengan berbicara pada teman sebangkunya itu artinya mereka mulai bosan
mendengar penjelasan Anda (Elafany, 2013). Maka, segeralah cari kegiatan lain
misalnya dengan ice breaking untuk
merilekskan suasana kelas.
6. Lelah, berhentilah sejenak!
Seorang guru dapat saja
merasa lelah di tengah-tengah pembelajaran. Maka berhentilah sejenak agar tidak
berdampak buruk pada siswa. Melalui sikap, siswa dapat membaca jika Anda ingin
segera keluar dari kelas itu. Sebab tanpa disadari, siswa memperhatikan kita
jauh lebih detail daripada kita memperhatikan mereka. Untuk pembelajaran yang
lebih menyenangkan dan efektif, lebih baik beristilahatlah beberapa menit
kemudian lanjutkan dengan semangat.

0 komentar:
Posting Komentar