High class yang
kemudian membentuk nilai jual seseorang.
Benarkah kita
membutuhkah price tag (label harga)?
High class, siapa sangka jika hampir
seluruh lapisan masyarakat menginginkannya. Dari orang – orang primitif sekelas
suku – suku pedalaman, kaum miskin (grass roots), kaum menengah (urban – middle
roots), dan kaum kelas atas (high roots), tiada yang menolak sebuah harga diri
tinggi. Kiranya meski kiamat yang digambarkan suku maya tidak menjadi kenyataan,
atau ramalan – ramalan kehancuran yang mungkin bakal muncul di masa depan akan
menemui realitanya. Konon, manusia sejak jaman purba tak pernah lepas untuk
memiliki selongsong kehormatan. Bahkan di jaman tak berbatas ini pun,
kehormatan dengan standart high class sangat dibutuhkan manusia. Tentu untuk
beragam kepentingan. Namun pernahkah kita melihat bahwa kehormatan itu
membutuhkan ‘banyak’ pengorbanan?
Manusia diciptakan dalam sebuah
masyarakat terstruktur dengan peran dan fungsi yang berbeda, tergantung porsinya.
Seperti kata Robert K. Merton, “manusia itu memiliki masa, peran, tujuan, dan
fungsi yang berbeda dalam sistem sosial. Jika ingin masyarakat berfungsi, maka
dibutuhkan usaha dengan harga yang pantas dibayar”. Kata pebisnis majalah,
“jika ingin dihormati, milikilah lingkungan ‘kelas tinggi’, tata dirimu dengan
sedemikian berkualitas”, atau seorang pecinta hubungan yang berkata “jadilah
berkualitas untuk pasangan yang juga berkualitas”. Benarkah sesuatu berkualitas
akan bertimbal balik hal yang sama? Bagaimana jika kita berada dalam suasana
‘lower class (kelas rendah)?’
Layaknya politisi yang membutuhkan
citra, dan negara yang membutuhkan rakyat untuk mematuhi segala ketentuan
pemerintah, disinilah peran sebuah high class. Suatu keadaan dimana semua orang
membutuhkan kehormatan, untuk dihormati. Beragam institusi pendidikan yang
mempromosikan dirinya pun tak pernah luput dari penyebaran kata – kata
“berkelas”. Juga dalam urusan cinta, baik laki – laki maupun perempuan,
bervalidasi dan bercover “apik” untuk menarik pasangannya. Sebuah high class, yang benar – benar punya
dunianya. Punya komunitasnya. High class yang kemudian membentuk nilai jual
seseorang.
High class. High dan class, yang berarti kelas tinggi. Berpikir, bersikap, dan berbuat
layaknya manusia kelas – kelas tinggi. Berparas cantik dan tampan untuk menarik
perhatian, berkomunikasi lancar dengan orang – orang pemegang kepentingan,
bertindak cepat dan tanggap untuk sesuatu yang dianggap penting. Atau bergaul
dengan orang – orang berpakaian mahal, rapi, dan berduit. Jika itu bagi kaum
wanita, maka ada pengorbanan yang dilakukan, diantaranya mempersiapkan setumpuk
make up, pakaian mewah, dan high
heells bermerek. Begitupun dengan prianya, tentu tanpa make up dan hells. Namun,
berapa harga yang harus kita bayar untuk sebuah high class? Yang terkadang, menjadi ‘apa adanya’ pun tak akan
lengkap tanpa pengorbanan. Benarkah kita membutuhkah price tag (label harga)?


0 komentar:
Posting Komentar