Tidak diragukan lagi bagi seorang guru, sejak jaman
hindia-Belanda mereka mengajarkan bahwa guru adalah orang tua di sekolah yang
harus dipatuhi, dihormati, dan dihargai setiap tindak-tanduknya. Menurut Brad
Henry seorang gubernur/politikus di Amerika ‘A good teacher can inspire hope, ignite the imagination, and instill a
love of learning’, seorang guru yang baik adalah inspirator bagi anak
didiknya, memberi imajinasi, dan mengajar benar-benar dari hatinya. Bagi
pemerintah di negara manapun, pendidikan menjadi prasayarat kemajuan bangsa,
maka tak heran jika banyak negara memperlakukan guru selayaknya manusia suci
yang mengajarkan berbagai ilmu pengetahuannya guna mendidik dan mengajar para
generasi muda. Apalagi di jaman modernisasi, guru haruslah beradaptasi dengan
jaman tentu juga kompeten. Bagaimana menjadi guru kompeten?
1. Bisa dipercaya murid
Bagi
seorang guru, tugasnya selain mengajar juga mendidik. Tampilkanlah bahwa Anda
adalah seorang guru, bertingkah laku guru, dan berkata selayaknya guru. Untuk
menghadapi peserta didik, terlebih dulu Anda harus meyakinkan kepada mereka
bahwa Anda adalah seeorang yang bisa dipercaya. Ketika siswa melihat seorang
guru, yang terpancang pada pikirannya adalah ‘apakah guru ini dapat saya
jadikan sebagai model? Apakah bisa saya tiru sikap dan tindak-tanduknya? Atau jika
saya mengalami masalah, bisakah guru ini memuaskan hati saya?’ Dan baiklah,
guru harus menampilkan dirinya sebagai seorang pendengar yang baik, dengan
begitu siswa merasa nyaman berada di dekat Anda.
2. Percaya diri
Mungkin
bagi seseorang yang masih baru di dunia pendidikan atau yang sudah senior
sekalipun, pasti pernah mengalami rasa minder didalam dirinya. Ketika
menghadapi murid, tidak jarang seorang pendidik harus berpikir ulang untuk
berbicara setiap katanya di depan murid. Selalu ada rasa tidak tega untuk
menegur, menasehati, atau bertindak tegas kepada murid-murid yang berlaku
seenaknya. Untuk menghadapi hal itu, Anda tidak perlu takut salah, di-bully, atau nantinya kehadiran Anda akan
ditolak dan lain sebagainya. Satu-satunya yang harus dilakukan hanyalah “percaya
diri”, dengan apa yang akan harus dikata, dan ditindak. Pikirkanlah di malam
hari, apa yang harus saya lakukan besok agar murid-murid saya senang dengan
saya, namun tetap disegani. Posisikanlah Anda sebagai orang tua yang harus
mendidik mereka, bukan memanjakannya. Just confident!
3. Ini bukan tentang Anda, tapi mereka.
Tidak
jarang seorang murid merasa frustasi ketika pembelajaran dimulai karena
berbagai alasan tertutama yang ditujukan kepada pengajar. Penelitian di A.S
mengatakan 60% murid merasa frustasi dan tertekan menghabiskan waktu di sekolah
(www.howtoteaching.com). Hal ini
dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti: lingkungan keluarga yang broken,
dibully oleh teman sekolah, dan merasa bosan saat di kelas. Faktor yang paling dominan yakni saat berada
di kelas, kemampuan mereka untuk menyerap informasi hanyalah 20-30 menit,
sesudah itu mereka akan melanturkan banyak hal. Sehingga Anda dituntut untuk
mampu memikirkan apa yang dibutuhkan siswa setiap menitnya ketika Anda
mengajar. Perhatikanlah setiap gerak-gerik mereka ketika pelajaran, lihat mimik
mukanya, maka Anda akan mendapati mana-mana siswa yang masih menginginkan Anda
di kelas dan juga mana yang mulai bosan dengan pelajaran Anda. Jangan
membiarkannya, ini bukan tentang kemauan Anda tapi kebutuhan mereka. Maka,
segeralah memikirkan metode pembelajaran paling efektif untuk materi Anda, persiapkan dengan matang dan pakailah lebih dari
satu agar siswa tidak bosan.
4. Motivasi itu Penting
Jangan
pernah memberi materi melulu kepada siswa karena sekali lagi, kemampuan siswa
menyerap apa yang Anda katakan hanya 30% dari memori otak atau sekitar 20-30
menit. Ketika masuk ke sekolah, mereka berangkat dengan latar belakang beragam,
dan dengan kondisi yang bermacam-macam. Ada yang harus membantu orang tuanya
dulu sebelum berangkat ke sekolah, ada yang dengan perasaan senang, marah, atau
sedih ketika berangkat ke sekolah. Jika Anda langsung memberikan materi, maka
informasi yang masuk hanya akan tersimpan pada short term memory/memori otak jangka pendek. Hasilnya, anak sulit
menangkap apa yang Anda katakan. Ada baiknya jika Anda memberi mereka motivasi
sesuai dengan kondisi sehari-hari mereka. Tidak perlu kata-kata tinggi, yang
terpenting motivasi Anda mampu menarik minat mereka untuk berpikir.
5. Lets be fun!
Agar
anak tidak bosan dengan apa yang Anda berikan sepanjang pelajaran berlangsung,
karena bukannya simpatik dengan pelajaran Anda mereka malah akan sibuk untuk
memusuhi Anda. Maka ada baiknya Anda menggunakan teknik pembelajaran berbasis game
seperti quis, tanya-jawab, atau permainan edukatif. Rencanakanlah teknik
berbasis game tersebut sesuai dengan kondisi anak, materi yang akan diberikan,
dan waktu pembelajaran. Mengeluarkan joke/bercanda dengan siswa, memberikan
waktu berdialog untuk Anda dengan mereka juga dapat membuat pelajaran menjadi
lebih menyenangkan. Hal ini tentunya akan membantu kompetensi Anda sebagai guru
yang inovatif.


0 komentar:
Posting Komentar