Perjalanan panjang bangsa Indonesia tidak hanya terjadi saat ini. Confusius berkata “remembered past, exploring future”, artinya, jangan lupa mengingat masa lalu yang membuat manusia mampu mengeksplore masa sekarang, dan masa depan. Setidaknya motto ini mengingatkan masyarakat akan peradabannya. Karena budaya dan peradaban adalah hasil pendidikan manusia. Sebuah kota (city), negara-kota (polis), atau kabupaten (regentschap), juga menjadi hasil budaya manusia. Pembahasan mengenai pembentukkan sebuah kabupaten, tentu tidak lepas dari sejarah bangsa yang mempengaruhi sejarah lokal. Kabupaten Jember diantaranya, tidak langsung begitu saja terbentuk. Mengingat hari ini adalah tanggal 1 Januari, menjadi tanggal paling ditunggu-tunggu warga Jember. Di setiap tempat setiap sudut desa di kabupaten ini tak pernah ketinggalan untuk merayakannya. Selain tahun baru meski hanya sekedar duduk di alun-alun kota Jember, bisa dicermati betapa antusiasme warga yang kebanyakan muda mudi begitu menikmati suasana tengah kota. Saat Ratu Wihelmina Belanda datang ke Jember tahun 1930-an pun, aloen aloen kota sering digunakan untuk merayakan berbagai kegiatan warga dan pemerintahan. Apalagi bertepatan dengan tahun baru, kiranya hari ulang tahun Jember pasti ikut dirayakan. Masyarakat dari berbagai lapisan diundang untuk ikut upacara memperingati hari Jadi Kabupaten Jember yang ke-85. Tetapi apa yang sebenarnya sedang diperingati? Tahukah warga Jember tentang sejarahnya sendiri? Beberapa ahli sejarah dan hukum bahkan mengeluarkan sikap pro dan kontra tentang penetapan hari jadi ini. Pasalnya, kabupaten ini memang susunan kolonial alias berdiri saat masa penjajahan. Inilah quo vadis hari lahirnya kabupaten Jember.

Jember dan Masa Mbabad Alas
Jember, dulu tidak pernah semaju dan seindah ini. Sebongkah tradisi lisan dari nenek moyang menyebutkan bahwa kata Jember berasal dari bahasa jawa “jembret” atau “jembrek”, yang artinya becek, tanah yang digenangi air, kotor, dan berlumpur. Dalam kitab Negarakretagama pupuh XXIII dijelaskan tentang perjalanan Hayam Wuruk sesampainya di Puger dilanjutkan ke Bondowoso terus ke Situbondo, keretanya sampai sulit berjalan karena jalanan yang sangat sukar, berlumut, dan licin. Diceritakan juga kalau Jember merupakan tanah kosong masih berupa hutan belantara yang luas, hingga orang Madura yang kemudian banyak bermigrasi ke wilayah ini mengatakan “bhener lak tanana gik jembher (betul dik, tanahnya masih luas).” Ditinjau dari segi istana-sentris (kerajaan), Jember bukanlah seperti kota-kota di Indonesia lainnya terutama di Jawa Timur yang sangat kental dengan peninggalan kerajaan karena memang tidak pernah berdiri sebagai kerajaan. Jember, terhitung sebagai bagian wilayah kerajaan-kerajaan besar yang pernah berdiri di Nusantara seperti: Mataram, Blambangan, dan Majapahit. Merunut historisnya, kota ini merupakan saksi bisu menyaksikan jatuh bangunnya kemaharajaan di Indonesia. Bahkan sejak masa praaksara, Jember sudah menjadi tempat tinggal bagi para manusia purba. Lihat saja di berbagai wilayah Jember terutama di daerah Kamal (Arjasa) sudah terdapat plang yang bertuliskan “Situs Duplang Dan Situs Batu Kenong”, manusia purba dari jaman Megalithikum diperkirakan jenis pithecantropus erectus dan homo sapien sudah tinggal didaerah ini. Begitu juga saat naturalis Barat gemar sekali meneliti wilayah Indonesia yang sedang dijajah di tahun 1939, ditemukanlah jenis manusia tertua di gua Sodong daerah wetangan Puger. Ini artinya, wilayah Jember secara arkeologis dan topografis, sangat strategis untuk ditinggali.        
Tidak pernah ada yang tahu siapa pembabad pertama daerah ini, nenek moyang sering membubui cerita dengan mitos. Konon, ada seorang pangeran beragama Islam dari kerajaan Majapahit yang terdampar di puger, kemudian mulai mbabad alas. Adapula yang menyebutkan bahwa suku Mandar lah (dari Sulawesi) yang pertama kali mbabad, tetapi begitupun dengan suku Jawa dan Madura juga memiliki versi tersendiri tentang hal ini. Paling tidak sepanjang sejarah itu dicatat, bisa dilihat bukti-bukti otentik yang ditulis para kolonial yang saat itu mulai melirik Jember untuk wilayah pelaksanaan tanam paksa, dapat dijadikan sumber.
Tahun 1800, Jember masih berada dibawah kepimpinan lokal berstatus sebagai afdeling dari Bondowoso berdasarkan surat J. Haseelaar tertanggal 22 Februari 1806. Apalagi setelah Belanda mulai membuka usaha perkebunan sejak awal tahun 1800, pengusaha asing datang untuk melakukan investasi diantaranya ada George Birnie di tahun 1852 dengan usaha perkebunannya bernama Landbouw Maatschappij Oud Djember (LMOD). Usaha perkebunan membutuhkan banyak tenaga kerja sehingga Belanda mempekerjakan suku-suku Jawa dan Madura yang ada di selatan Regentschapt Puger dan wilayah utara daerah Jember.

Sebuah Kota Kolonial?
Belanda dengan kekuasaannya, menerapkan hukum-hukum dan undang-undang modern yang tidak dipahami orang-orang sekelas pribumi. Impian Ratu Wihelmina untuk mendirikan “Nederland Raya”, dipraktekkan lebih banyak di wilayah Indonesia. Tidak terkecuali di Jember, saat itu datang seorang dokter yang kebetulan ditugaskan ke daerah ini menulis surat untuk Ratu Wihelmina bahwa “wilayah ini sangat licin, dan jalannya jelek sekali, tolong segera diperbaiki.” Dengan tanggap, juga karena tanam paksa rupanya sudah tidak tren lagi di kalangan kolonial. Maka diterapkanlah Politik Liberal tahun 1830 dan juga berlakunya undang-undang agraria 1870, membuat wilayah ini berkembang dengan dibangunnya perkebunan-perkebunan kopi, teh, palawija, gedung perkantoran, rumah, dan akses jalan yang menghubungkan kantor pusat perkebunan dengan areal perkebunan. Semua pembangunan itu khas seperti corak modernitas bangunan di Eropa. Perkembangan Jember yang memukau ini, menjadikannya bukan lagi menjadi wilayah afdeling (bagian) Bondowoso, namun meningkat menjadi Regentschap (kabupaten) berdasarkan staatblad no.322 tanggal 29 agustus 1928, yang jelas menjadi quo vadis.

Para ahli sejarah dan hukum jelas berbeda pendapat soal ini. Bagaikan dua koin mata uang yang tidak bisa dipisahkan, begitu pula pro kontra ini. Satu sisi, setuju bila hari jadi Kabupaten Jember diperingati pada 1 Januari. Berdasarkan staatblad no. 322 tertanggal 9 Agustus 1928 yang baru ditetapkan pada tanggal 1 Januri 1929, tentang penetapan status Kabupaten Jember terdiri dari 7 distrik, yaitu van het Djember, Kalisat, Majang, Rambipoedji, Tanggoel, Poeger, dan Woeloehan. Juga dengan argumentasi bahwa eksistensi Jember memang sudah ada sejak masa purba. Namun, pembentukan kotanya baru ada saat kolonial menjajah Jember dan mereka (kolonial) tidak pernah merayakan hari jadi kabupaten/kota jajahannya, kecuali hari ulang tahun kemerdekaan Kerajaan Belanda tiap tanggal 30 April. Sisi lain tetap pada ketidaksetujuannya, yakni staatblad no. 322 tertanggal 9 Agustus 1928, adalah buatan Belanda. Karena eksistensi aturan dalam undang-undang tersebut sudah dihabisi dengan lahirnya UUD 45 dan kemerdekaan NKRI. Buktinya, kota-kota lain juga sudah menguah hari jadinya agar tidak terlhat itu adalah warisan Belanda. Inilah sebab hari jadi Jember disebut “Quo Vadis” atau mau dibawa kemana?


Aryni Ayu, Radar Jember 1 Jamuari 2016


            Berapa usiamu? Kapan akan nikah? Atau kapan akan memiliki karir yang mantap? Ya, 60% berdasarkan survey yang dikabarkan oleh www.indiatimes.com akan menjawab usia 24 tahun. Menjadi muda, kaya raya, dan gaya! Itulah yang dipikirkan kaum muda pada usia ini. Namun tahukah Anda bahwa usia 24 tergolong usia dewasa muda dan menjadi awal bagi segala sumber kedewasaan. Artinya, boleh jadi semua kesulitan yang pernah diarasakan di masa remaja bukanlah apa-apa ketika memasuki berusia 24 tahun. Apakah Anda tergolong angka ini? lebih beberapa tahun atau kurang dari dua puluh empat? Maka, bersiaplah Anda memiliki fakta-fakta berikut ini :

1.      Freshgraduate, keren or meragukan?


Ketika memasuki usia ini kemungkinan besar Anda adalah seorang freshgraduate. Anda akan berpikir Anda adalah orang yang keren, smart, dan pasti akan segera mendapat pengakuan dari dunia bahwa Anda orang hebat. Menjadi muda dan baru lulus dari sebuah perguruan tinggi menjadi hal baru bagi para pelakunya. Mereka termasuk orang yang idealis, dan menganggap semua impian akan segera terwujud terutama dalam hal karir. Benarkah? Eits, tungggu dulu. Di usia 24 tahun, seorang fresgraduate hanya seorang junior yang harus banyak belajar dari para senior di kantornya. Meski menjadi pegiat usaha, bisa jadi, Anda diragukan oleh banyak pihak karena belum punya pengalaman kerja. Maka sebelum sebelum atau ketika Anda memasuki usia ini, persiapkanlah mental, karakter, dan sikap yang mantap.

2.      Merasa lebih tua?


Usia 24 menurut para psikologis masuk dalam kondisi dewasa muda, tidak terlalu muda juga tidak terlalu tua. Namun pada umumnya para muda usia ini menganggap bahwa diri mereka sudah tua dan tidak cocok lagi bergaya rock n roll, atau kongkow di tempat-tempat remaja. Bagi mereka, angka dua puluh empat menjadi hal membingungkan dimana mereka masih ingin bergaya seperti anak remaja, tetapi di satu sisi juga harus terlihat berwibawa di depan orang lain. Ada kalanya mereka juga ingin mengajarkan sesuatu pada anak dibawah usianya bahwa itu salah, itu benar karena mereka juga pernah ada di usia itu. Maka, jadilah diri sendiri, tetapi ingat jangan pernah mengabaikan penilaian orang lain. Boleh kita berperilaku, berpakaian apa saja tetapi orang lain lah yang akan menilai kita seperti apa.

3.      Belajarlah menghitung


Jika sampai hari ini Anda masih suka sekali berkumpul dengan teman-teman di cafe, mall, bar, ataupun di tempat-tempat wisata. Maka, sebagai seorang dewasa yang mulai stabil belajarlah menghitung. Entah Anda sudah bekerja, sekolah pascasarjana/profesi, ataupun masih pengangguran, tidak ada pengecualian. Karena mulai usia ini, sudah dipastikan sebagian besar dari Anda sudah tidak lagi menerima kucuran dana dari orang tua. Memang, pergi ke tempat-tempat yang kita suka adalah salah satu cara untuk melepas penat dari segala kebosanan. Tapi ingatlah, biaya untuk pergi untuk hal yang tidak terlalu penting meski hanya sehari, dapat menguras persediaan uang Anda. Contoh, biaya makan di cafe/ restauran minimal Rp 25.000 x 2 kali dalam seminggu=Rp50.000 x 4 minggu = Rp 200.000 x setahun = Rp 2.400.000. Itu hanya perhitungan minimal untuk sekedar makan, belum beli peralatan make up, sepatu, alat kantor, salon, fitness, dan lain sebagainya. Well, ada baiknya Anda mulai menstop hal-hal yang tidak penting, belajarlah menghitung untuk masa depan.

4.      Menikah?


Bagi Anda yang sudah punya pasangan di usia ini, sebagian besar pasti akan langsung memikirkan kearah pernikahan. Ini lumrah terjadi di negara-negara budaya Timur karena tuntutan moral, dan budaya berbeda dengan budaya barat yang umunya menunda pernikahan jika ada hal-hal yang masih harus dicapai. Pernikahan adalah sakral dan harus menjadi prioritas dalam kehidupan. Ini benar. Namun tentu saja harus siap secara mental, sikap, karakter, pemikiran, dan finansial. Jangan menginginkan pernikahan hanya karena orang lain seusia Anda sudah menikah. Karena pernikahan itu merupakan hal kompleks yang bukan saja menyatukan dua orang tapi juga dua keluarga. Persiapkanlah sematang-matangnya apa saja yang dibutuhkan sebelum menikah, jangan sampai setelah pernikahan ada penyesalan. Ingat, anda bukan sedang berada di negeri dongeng yang semua serba ada.

5.      Your Problems, not Always their Problems!


I have problem! Everybody listen to me please! Semua orang memiliki masalah baik itu seorang anak, remaja, atau dewasa. Apalagi memasuki usia dewasa, masalah yang pernah dialami di masa remaja, permasalahan skripsi dan lain sebagainya, rasanya tidak sebanding dengan masalah yang Anda alami sekarang. Maka jangan selalu langsung meng-update status di bbm, facebook, line, wa, dan buat semua orang tahu setiap jamnya tentang keadaan Anda. Atau Anda langsung curhat setiap hari pada teman-teman Anda. Dan apa yang terjadi? Pasti mereka akan merasa terganggu. Baiklah, tidak semua orang harus tahu permasalahan Anda. Masalah boleh saja berat, tergantung bagaimana seseorang dapat memecahkannya. Toh, Anda adalah orang yang bijak, cobalah untuk berpikir maka pasti ada jalan keluar. Ada baiknya Anda meminta saran kepada orang tua atau satu orang kepercayaan, itu sudah cukup untuk meringankan hati dan pikiran Anda.

6.      Mulai kehilangan beberapa teman?


S   Seiring usia yang makin bertambah Anda akan menyadari bahwa lingkaran pertemananmu ternyata semakin kecil. Anda akan kehilangan kontak dengan beberapa teman, tidak lagi mengetahui perkembangan kehidupan mereka lalu berhenti berkomunikasi sama sekali. Walau pastinya tidak menyenangkan saat harus kehilangan teman, tapi proses ini adalah siklus normal yang pasti dilewati. Hidup akan mempertemukanmu dengan orang-orang baru yang lebih sejalan. Pergi dan datangnya teman adalah hal yang biasa. Mereka yang tetap bertahan setelah sekian lama adalah teman sejati yang memang layak kamu jaga.

7.      Proses Mencari Dan Mengembangkan Diri Tidak Akan Pernah Selesai


    Dulu Anda mengira sudah akan selesai dengan dirimu sendiri di usia 24. Pokoknya kamu sudah jadi manusia dewasa, deh. Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu. Justru di usia 24 kamu akan makin merasa tertantang untuk menemukan hal yang kamu suka dan mengembangkan diri. Tidak jarang Anda akan ikut kelas tambahan dan makin menggiati hobi di usia ini. Di usiamu yang sudah 24 tahun kamu sadar bahwa proses mencari dan mengembangkan diri adalah sebuah proses yang tidak akan pernah ada ujungnya. Sampai kapanpun Anda masih akan terus haus ingin mengembangkan diri. Keinginan ini justru harus terus Anda jaga, agar Anda bisa terus berkembang ke arah yang lebih baik.



Boleh Anda menirukan gerakan seorang presenter, motivator, atau pemain drama saat mengajar. Paling tidak siswa akan tertarik mengikuti alur pelajaran Anda

            Pendidikan menjadi akar kemajuan bangsa. Di negara manapun, bahkan Jepang pasca peristiwa pemboman Hiroshima dan Nagasaki, harus berjuang memperbaiki pendidikannya dengan memperbaiki kualitas para guru yang mereka miliki. Pendidikan menjadi bagian penting bagi setiap manusia yang hidup di jaman serba modernisasi. Seseorang yang ingin hidupnya bermanfaat harus menanamkan pendidikan sampai akhir hayatnya. Begitu pula dikatakan Mahatma Gandhi, Live as if you were to die tomorrow. Learn as if you were to live forever. Belajar, pendidikan, dan seumur hidup menjadi rangkaian kata kunci untuk membentuk peradaban bangsa. Kalau hidup hanya untuk makan, hewan pun bisa, namun jika hidup untuk berpikir maju itulah manusia (Hamka, 1966). Guru menjadi penggerak maju atau tidaknya pendidikan, sehingga kompetensi seorang pendidik sangat dibutuhkan. Namun bagaimana caranya agar murid mau dan mampu mendengarkan mengerti serta menerapkan ilmu yang disampaikan oleh guru?

1.      Kontrol, dan Bicaralah!
Ketika Anda memasuki kelas, akan muncul bermacam-macam karakter yang ditampilkan oleh murid. Ada kelas yang langsung diam, ada kelas yang masih ramai seperti pasar meski guru sudah duduk di kursinya. Jika menemui kelas kedua, umumnya seorang guru bisa saja langsung marah-marah atau mengeluarkan suara keras untuk menghentikan kegiatan di kelas. Namun guru yang bijak akan memilih diam sejenak 5-10 menit agar murid-murid merasakan keheningan. Setelah mereka satu persatu mulai mengetahui keberadaan Anda di dalam kelas, barulah Anda berbicara. Berilah kesan Anda seorang yang tegas dan bijak. Anda sudah tahu kelakuan mereka, maka berikan sedikit aturan bahwa murid memiliki waktu yang tepat kapan mereka boleh ramai dan diam, jika hal itu terjadi lagi boleh Anda memberikan sanksi, tentu yang mendidik.

2.      Opening: Motivasi dan Bahasa Sambutan
Di dalam rencana pembelajaran, selalu ada langkah-langkah pembelajaran yang harus dilakukan guru. Setelah mampu mengontrol kelas, Opening, menjadi hal paling penting dalam pembelajaran. Berilah mereka pembukaan yang hangat, boleh dengan motivasi, lalu tanyakan hal-hal seputar kehidupan mereka. Contoh: “Bagaimana pagi kalian hari ini?, Hai kamu, kenapa rambutmu terlihat berantakan? Ah ya, kamu terlihat lebih cantik atau tampan hari ini!”, ini akan diartikan oleh murid kalau Anda peduli dengan keadaan mereka. Katakanlah bahwa Anda sangat senang melihat mereka hari ini, dan sangat mengharapkan mereka menerima dengan baik apa yang Anda sampaikan.

3.      Tanyakan mengapa dan bagaimana
Ketika Anda mulai memasuki materi, maka jangan pernah bertanya dengan kata tanya ‘apa, kapan, dan dimana’. Itu hanya diperuntukkan bagi anak usia 1-12 tahun. Khusus untuk anak remaja, tanyakan ‘mengapa, dan bagaimana’ agar mereka berpikir secara analisis. Untuk ilmu sosial sebagai contoh: “mengapa manusia hidup? mengapa Pangeran Diponegoro meninggal?”, atau ilmu alam: “mengapa lampu itu menyala?, bagaimana listrik itu menyala”. Akan berbeda hasilnya jika Anda bertanya tentang semua pertanyaan itu dengan kata “Apa,kapan, dimana”, jawabannya tentu verbal dan singkat. Ingat, mereka bukan anak kecil.

4.      Pakai Body language
Ketika seorang guru sedang memberikan materi dengan hanya duduk di kelas berjam-jam tanpa ada perubahan suara atau pergerakan tubuh menurut penelitian University of Berkeley (2015) Amerika, maka siswa akan cenderung mengantuk dan ingin segera tidur. Alih-alih memperhatikan, bisa saja mereka justru bercerita sendiri dengan teman sebangkunya atau bermain gadget. Maka, materi akan lebih menarik jika kita mampu memanfaatkan bahasa tubuh dan suara yang kita miliki. Berikanlah bahasa tubuh yang luwes namun tegas. Boleh Anda menirukan gerakan seorang presenter, motivator, atau pemain drama saat mengajar. Paling tidak siswa akan tertarik mengikuti alur pelajaran Anda. Menurut Lavinia Plonka, pengarang ‘Walking Your Talk’ mengatakan bahwa siswa akan semangat mengikuti pelajaran jika gurupun semangat untuk mengajar.

5.      Perhatikan bahasa tubuh siswa
Jangan pernah mengatakan pembelajaran Anda sukses hanya dalam satu kali percobaan. Sebagai seorang pendidik, harus selalu peka terhadap segala kemungkinan perubahan yang terjadi pada siswa. Ingat, pembelajaran bukan tentang Anda, tapi tentang mereka. Pergerakan mimik muka, tangan, dan badan siswa akan berubah setiap detiknya. Jika mata mereka tertuju pada Anda dengan mulut agak melebar, dada kearah depan, dapat dikatakan bahwa mereka tertarik dengan penjelasan Anda. Namun, bila salah satu siswa mulai menoleh kearah berlawanan ke kanan/kiri, atau menyela pembicaraan Anda dengan berbicara pada teman sebangkunya itu artinya mereka mulai bosan mendengar penjelasan Anda (Elafany, 2013). Maka, segeralah cari kegiatan lain misalnya dengan ice breaking untuk merilekskan suasana kelas.

6.      Lelah, berhentilah sejenak!

Seorang guru dapat saja merasa lelah di tengah-tengah pembelajaran. Maka berhentilah sejenak agar tidak berdampak buruk pada siswa. Melalui sikap, siswa dapat membaca jika Anda ingin segera keluar dari kelas itu. Sebab tanpa disadari, siswa memperhatikan kita jauh lebih detail daripada kita memperhatikan mereka. Untuk pembelajaran yang lebih menyenangkan dan efektif, lebih baik beristilahatlah beberapa menit kemudian lanjutkan dengan semangat.


            Tidak diragukan lagi bagi seorang guru, sejak jaman hindia-Belanda mereka mengajarkan bahwa guru adalah orang tua di sekolah yang harus dipatuhi, dihormati, dan dihargai setiap tindak-tanduknya. Menurut Brad Henry seorang gubernur/politikus di Amerika ‘A good teacher can inspire hope, ignite the imagination, and instill a love of learning’, seorang guru yang baik adalah inspirator bagi anak didiknya, memberi imajinasi, dan mengajar benar-benar dari hatinya. Bagi pemerintah di negara manapun, pendidikan menjadi prasayarat kemajuan bangsa, maka tak heran jika banyak negara memperlakukan guru selayaknya manusia suci yang mengajarkan berbagai ilmu pengetahuannya guna mendidik dan mengajar para generasi muda. Apalagi di jaman modernisasi, guru haruslah beradaptasi dengan jaman tentu juga kompeten. Bagaimana menjadi guru kompeten?

1.      Bisa dipercaya murid
       Bagi seorang guru, tugasnya selain mengajar juga mendidik. Tampilkanlah bahwa Anda adalah seorang guru, bertingkah laku guru, dan berkata selayaknya guru. Untuk menghadapi peserta didik, terlebih dulu Anda harus meyakinkan kepada mereka bahwa Anda adalah seeorang yang bisa dipercaya. Ketika siswa melihat seorang guru, yang terpancang pada pikirannya adalah ‘apakah guru ini dapat saya jadikan sebagai model? Apakah bisa saya tiru sikap dan tindak-tanduknya? Atau jika saya mengalami masalah, bisakah guru ini memuaskan hati saya?’ Dan baiklah, guru harus menampilkan dirinya sebagai seorang pendengar yang baik, dengan begitu siswa merasa nyaman berada di dekat Anda.

2.      Percaya diri
Mungkin bagi seseorang yang masih baru di dunia pendidikan atau yang sudah senior sekalipun, pasti pernah mengalami rasa minder didalam dirinya. Ketika menghadapi murid, tidak jarang seorang pendidik harus berpikir ulang untuk berbicara setiap katanya di depan murid. Selalu ada rasa tidak tega untuk menegur, menasehati, atau bertindak tegas kepada murid-murid yang berlaku seenaknya. Untuk menghadapi hal itu, Anda tidak perlu takut salah, di-bully, atau nantinya kehadiran Anda akan ditolak dan lain sebagainya. Satu-satunya yang harus dilakukan hanyalah “percaya diri”, dengan apa yang akan harus dikata, dan ditindak. Pikirkanlah di malam hari, apa yang harus saya lakukan besok agar murid-murid saya senang dengan saya, namun tetap disegani. Posisikanlah Anda sebagai orang tua yang harus mendidik mereka, bukan memanjakannya. Just confident!

3.      Ini bukan tentang Anda, tapi mereka.
Tidak jarang seorang murid merasa frustasi ketika pembelajaran dimulai karena berbagai alasan tertutama yang ditujukan kepada pengajar. Penelitian di A.S mengatakan 60% murid merasa frustasi dan tertekan menghabiskan waktu di sekolah (www.howtoteaching.com). Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti: lingkungan keluarga yang broken, dibully oleh teman sekolah, dan merasa bosan saat di kelas.  Faktor yang paling dominan yakni saat berada di kelas, kemampuan mereka untuk menyerap informasi hanyalah 20-30 menit, sesudah itu mereka akan melanturkan banyak hal. Sehingga Anda dituntut untuk mampu memikirkan apa yang dibutuhkan siswa setiap menitnya ketika Anda mengajar. Perhatikanlah setiap gerak-gerik mereka ketika pelajaran, lihat mimik mukanya, maka Anda akan mendapati mana-mana siswa yang masih menginginkan Anda di kelas dan juga mana yang mulai bosan dengan pelajaran Anda. Jangan membiarkannya, ini bukan tentang kemauan Anda tapi kebutuhan mereka. Maka, segeralah memikirkan metode pembelajaran paling efektif untuk materi Anda, persiapkan dengan matang dan pakailah lebih dari satu agar siswa tidak bosan.

4.      Motivasi itu Penting
Jangan pernah memberi materi melulu kepada siswa karena sekali lagi, kemampuan siswa menyerap apa yang Anda katakan hanya 30% dari memori otak atau sekitar 20-30 menit. Ketika masuk ke sekolah, mereka berangkat dengan latar belakang beragam, dan dengan kondisi yang bermacam-macam. Ada yang harus membantu orang tuanya dulu sebelum berangkat ke sekolah, ada yang dengan perasaan senang, marah, atau sedih ketika berangkat ke sekolah. Jika Anda langsung memberikan materi, maka informasi yang masuk hanya akan tersimpan pada short term memory/memori otak jangka pendek. Hasilnya, anak sulit menangkap apa yang Anda katakan. Ada baiknya jika Anda memberi mereka motivasi sesuai dengan kondisi sehari-hari mereka. Tidak perlu kata-kata tinggi, yang terpenting motivasi Anda mampu menarik minat mereka untuk berpikir.

5.      Lets be fun!

Agar anak tidak bosan dengan apa yang Anda berikan sepanjang pelajaran berlangsung, karena bukannya simpatik dengan pelajaran Anda mereka malah akan sibuk untuk memusuhi Anda. Maka ada baiknya Anda menggunakan teknik pembelajaran berbasis game seperti quis, tanya-jawab, atau permainan edukatif. Rencanakanlah teknik berbasis game tersebut sesuai dengan kondisi anak, materi yang akan diberikan, dan waktu pembelajaran. Mengeluarkan joke/bercanda dengan siswa, memberikan waktu berdialog untuk Anda dengan mereka juga dapat membuat pelajaran menjadi lebih menyenangkan. Hal ini tentunya akan membantu kompetensi Anda sebagai guru yang inovatif.



High class yang kemudian membentuk nilai jual seseorang.
Benarkah kita membutuhkah price tag (label harga)?



            High class, siapa sangka jika hampir seluruh lapisan masyarakat menginginkannya. Dari orang – orang primitif sekelas suku – suku pedalaman, kaum miskin (grass roots), kaum menengah (urban – middle roots), dan kaum kelas atas (high roots), tiada yang menolak sebuah harga diri tinggi. Kiranya meski kiamat yang digambarkan suku maya tidak menjadi kenyataan, atau ramalan – ramalan kehancuran yang mungkin bakal muncul di masa depan akan menemui realitanya. Konon, manusia sejak jaman purba tak pernah lepas untuk memiliki selongsong kehormatan. Bahkan di jaman tak berbatas ini pun, kehormatan dengan standart high class sangat dibutuhkan manusia. Tentu untuk beragam kepentingan. Namun pernahkah kita melihat bahwa kehormatan itu membutuhkan ‘banyak’ pengorbanan?

Manusia diciptakan dalam sebuah masyarakat terstruktur dengan peran dan fungsi yang berbeda, tergantung porsinya. Seperti kata Robert K. Merton, “manusia itu memiliki masa, peran, tujuan, dan fungsi yang berbeda dalam sistem sosial. Jika ingin masyarakat berfungsi, maka dibutuhkan usaha dengan harga yang pantas dibayar”. Kata pebisnis majalah, “jika ingin dihormati, milikilah lingkungan ‘kelas tinggi’, tata dirimu dengan sedemikian berkualitas”, atau seorang pecinta hubungan yang berkata “jadilah berkualitas untuk pasangan yang juga berkualitas”. Benarkah sesuatu berkualitas akan bertimbal balik hal yang sama? Bagaimana jika kita berada dalam suasana ‘lower class (kelas rendah)?’

Layaknya politisi yang membutuhkan citra, dan negara yang membutuhkan rakyat untuk mematuhi segala ketentuan pemerintah, disinilah peran sebuah high class. Suatu keadaan dimana semua orang membutuhkan kehormatan, untuk dihormati. Beragam institusi pendidikan yang mempromosikan dirinya pun tak pernah luput dari penyebaran kata – kata “berkelas”. Juga dalam urusan cinta, baik laki – laki maupun perempuan, bervalidasi dan bercover “apik” untuk menarik pasangannya. Sebuah high class, yang benar – benar punya dunianya. Punya komunitasnya. High class yang kemudian membentuk nilai jual seseorang.


High class. High dan class, yang berarti kelas tinggi. Berpikir, bersikap, dan berbuat layaknya manusia kelas – kelas tinggi. Berparas cantik dan tampan untuk menarik perhatian, berkomunikasi lancar dengan orang – orang pemegang kepentingan, bertindak cepat dan tanggap untuk sesuatu yang dianggap penting. Atau bergaul dengan orang – orang berpakaian mahal, rapi, dan berduit. Jika itu bagi kaum wanita, maka ada pengorbanan yang dilakukan, diantaranya mempersiapkan setumpuk make up, pakaian mewah, dan high heells bermerek. Begitupun dengan prianya, tentu tanpa make up dan hells. Namun, berapa harga yang harus kita bayar untuk sebuah high class? Yang terkadang, menjadi ‘apa adanya’ pun tak akan lengkap tanpa pengorbanan. Benarkah kita membutuhkah price tag (label harga)? 

“Pendidikan Masa Praaksara”

Memang, pendidikan masa praaksara dapat dikatakan sangat sederhana, karena pada masa inilah manusia pertama kalinya belajar tentang keterampilan hidup



Perkembangan pendidikan di Indonesia pada umumnya masih terbentur dengan komplektisitas permasalahan, diantaranya metode konvensional yang masih dipertahankan dan kurang mengarah pada pembekalan peserta didik setelah berada di bangku sekolah, masalah birokrasi, kemampuan sumber daya manusia yang masih kalah bersaing dengan negara-negara maju, serta kemampuan bangsa Indonesia untuk menyerap esensi penting pendidikan bisa dikatakan sangat kurang. Pendidikan di negeri ini dapat dikatakan lebih berorientasi pada nilai dan ijazah. Padahal di negara-negara maju, pendidikan bukan lagi hanya mengejar nilai, tetapi mengejar pengetahuan setinggi-tingginya. Mereka tidak lagi dikuasai oleh lembaga-lembaga pendidikan diluar sekolah yang dinilai hanya orientasi bisnis. Di Amerika, Jerman, dan Jepang, pendidikan sudah menjadi kebutuhan yang bertujuan melahirkan generasi penerus bangsa kompeten dan tidak pernah lupa dengan sejarah bangsanya. Karena tanpa hal ini, generasi penerus bagaikan robot yang tidak akan pernah bisa memajukan negaranya. Pendidikan di masa lalu, menjadi pertimbangan kebijakan bagi perkembangan manusia di masa kini. Persis seperti apa yang dikatakan Mao Tse Tung, pembesar Cina, gali pendidikan masa lalu dan kembangkan untuk masa depan.

Pendidikan dan sejarah, dua hal yang saling berhubungan dan memiliki nilai guna instrinsik. Pendidikan membutuhkan sentuhan masa lalu untuk mengambil kebijakan tentang apa-apa yang pernah diajarkan oleh manusia terdahulu, sejarah merupakan berntuk kearifan manusia masa kini. Dick and Carey (1998) berkata bahwa pendidikan merupakan kunci kemajuan peradaban bangsa. Manusia tidak pernah lahir dalam keadaan penuh dengan kecerdasan seperti sekarang, namun mengalami perkembangan. Mengacu pada buku berjudul “Origin of The Human” milik Charles Darwin (1889), manusia berevolusi dari fisiknya yang mirip dengan struktur anatomi primata menjadi struktur manusia seutuhnya dengan kapasitas otak dan kemampuan masa kini. Suatu aturan alam dimana manusia berusaha untuk terus menerus mencari kebenaran pengetahuan. Ini adalah bagian dari pendidikan yang paling sederhana. Bukankah pendidikan diciptakan untuk memanusiakan manusia?

Di masa praaksara, pra artinya sebelum dan aksara artinya tulisan, dapat diartikan manusia telah memiliki kebudayaan sebelum mengenal tulisan. Masa praaksara adalah jaman pertama kali manusia mencoba mengembangkan berbagai kemampuannya baik di bidang ekonomi, relijius, teknologi pembangunan, teknologi pertanian, pembuatan alat, dan pembagian sosial dalam keluarga. Semua itu berusaha dikembangkan dari titik nol. Sejak mereka tercipta melalui jenis Meganthropus Paleojavanicus, manusia jenis pertama ini hanya berkapasitas 350cc yang otaknya minim sekali digunakan untuk bisa berpikir. Jenis ini belum memiliki kebudayaan, pendidikan yang diterima hanya seputar menghasilkan keturunan, cenderung nomaden (berpindah tempat), dan food gathering (mengambil makanan dari alam).

Manusia kedua, jenis Pithecanthropus Erectus ber-ras negroid, mongoloid, dan kaukasoid yang menyebar dari Afrika ke seluruh dunia. Jenis ini memiliki kapasitas otak 900cc dengan budaya mesolithikum, yang mulai memiliki kepercayaan kepada sang Pencipta. Di indonesia, sistem relijius mereka dapat dikatakan menjadi akar dari berkembangnya kepercayaan animisme dan dinamisme. Budaya yang dibawa oleh manusia Pithecanthropus Erectus ini semakin mengalami perkembangan dengan munculnya pembagian sistem sosial di lingkungan keluarga, teknik perumahan, dan sistem bercocok tanam. Sistem sosial di lingkungan keluarga manusia purba sudah diajarkan mengenai pembagian pekerjaan ayah sebagai tulang punggung keluarga, ibu yang bertugas memasak, dan menjaga anak-anak, serta anak-anak yang nantinya diajarkan bagaimana cara berburu, dan membuat peralatan berburu seperti kapak. Kemudian mereka mengembangkan cara-cara tersebut untuk bertahan hidup dengan mulai membuat rumah, dan menanam sesuatu untuk kehidupan di masa mendatang.

Manusia ketiga, adalah jenis homo (sapien, habilis, africanus, floreinsis, soloensis) yang dianggap sebagai manusia paling sempurna diantara jenis manusia purba lainnya. Dapat dikatakan bahwa pendidikan yang diterima manusia purba kala itu sudah mencapai tahap puncak, mulai dikenalnya teknik pembuatan alat yang lebih sempurna seperti teknik pembuatan patung, pembuatan pakaian, bangunan-bangunan besar ala megalithik yang digunakan sebagai tempat pemujaan kepada roh, teknik penguburan, serta terbentuknya koloni manusia yang nantinya menciptakan sistem kemasyarakatan yang kita kenal saat ini. Memang, pendidikan masa praaksara dapat dikatakan sangat sederhana karena pada masa inilah manusia pertama kalinya belajar tentang keterampilan hidup. Berdasarkan teori humaniora, pendidikan sebaik-baiknya memanusiakan manusia menjadi pribadi yang lebih sempurna, mengolah pengetahuan di masa lalu untuk kepentingan generasi di masa depan. Manusia purba mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada kehidupan tanpa belajar, tidak ada belajar tanpa mengenal pengetahuan, dari yang sederhana sekalipun.




            Menulis bukanlah hal yang rumit. Menurut Pramoedya Ananta Toer, tulisan lebih tajam dari senjata apapun di dunia ini. Menulis adalah hal paling menyenangkan yang bisa dilakukan. Seseorang bisa mencurahkan segalanya, dari indahnya bangun pagi, sarapan, mendidik murid jika seorang pendidik, bercanda tawa dengan keluarga terdekat, atau hanya sekedar berjalan-jalan melepas penat. Semua orang bisa menulis. Berikut pengalaman sedikit tips menulis yang dirangkum berdasarkan dari beberapa orang pecinta tulisan.

1.      Tulislah sesuai keinginan hati
Hati adalah bagian paling jujur dalam anatomi tubuh manusia. Jika pikiran masih terbentur dengan logika dan apa kata orang lain, hati tidak bisa berbohong. Tulislah sesuai keinginan hati. Apapun yang ingin Anda tulis entah itu menyangkut curahan hati, aktivitas hari ini, atau sekedar mengkritisi kehidupan sehari-hari, go a head! Bisa saja tulisan Anda dapat menjadi referensi bagi orang lain, bukankah itu sesuatu hal yang membanggakan?

2.      Jangan takut salah!
Ketika seseorang ditanya, mengapa Anda tidak suka menulis? Ah, saya tidak bakat menulis, saya takut salah. Tidak ada gading yang tak retak, tak ada putih tanpa hitam. Orang harus melakukan kesalahan supaya dirinya tahu dimana letak kesalahan dan membenahinya. Tulislah, tidak ada tulisan yang jelek, yang ada hanya tulisan yang tidak pernah dibenahi. Bila orang berusaha mengkritik tulisan Anda, berterima kasihlah, karena berkat kata-kata pedas mereka Anda bisa belajar.

3.      Meng-copas tulisan orang lain? Boleh saja!
Well, di era globalisasi yang semakin maju ini memang tidak bisa disalahkan jika praktek plagiasi sudah menjadi biasa di kalangan masyarakat. Baik siswa maupun mahasiswa dan berbagai profesi yang menuntut kehadiran internet di sekitar dunia mereka pasti pernah melakukan praktek meng-copy paste. Hal ini bukan selalu berdampak negatif. Tulisan yang baik adalah tulisan yang telah mengcopy berkali-kali tulisan orang lain untuk ditiru, dimodifikasi, dibenahi, hingga menghasilkan tulisan baru yang lebih baik lagi. Bukankah budaya manusia pun tidak bisa lepas dari meniru-niru kebudayaan orang lain? So, lakukanlah dengan lebih baik.

4.      Budayakanlah membaca
Saat ini telah banyak berbagai artikel yang menghadirkan informasi seputar kehidupan manusia dengan lebih singkat dan menarik. Tidak hanya dalam bentuk koran atau majalah, tulisan online kini makin diminati bahkan menjadi trending topic di media sosial. Cobalah untuk banyak membaca, kalau Anda tidak kuat jangan buku dulu, lima artikel saja sudah cukup mengisi pengetahuan Anda. Lalu tulislah sesuatu, dijamin akan menciptakan sebuah pemikiran baru!

5.      Lebih baik menambah, jangan dikurangi!
Jika Anda menulis sesuatu yang panjang, dan runtut, jangan pernah memperhatikan kesalahan yang bisa dibuat di tiap kata berikutnya. Yakinlah bahwa apa yang Anda yang Anda tulis adalah istimewa. Jika menurut Anda terlalu panjang, jangan dihapus dulu. Bisa-bisa inspirasi Anda hilang. Lebih baik kelebihan daripada kekurangan kata-kata, bukan begitu?

6.      Idolah Anda adalah juri!
Setiap orang selalu punya idola yang dibanggakan. Sesuatu yang membuat diri seseorang selalu bersemangat melakukan segalanya. Jika Anda mengidolakan Marilyn Monroe, atau Taylor Swift, kakek, nenek, ibu, atau ayah, anggaplah bahwa mereka akan selalu melihat tulisan Anda. Berkat mereka juga tulisan Anda akan berjalan seperti air mengalir, merekalah inspirasi Anda. Maka, jangan ragu-ragu untuk mengambil energi positif dari para idola.

7.      Buatlah inspirasi sendiri!
Banyak orang mengira inspirasi datang dari tempat yang tenang, sejuk, dan indah, itu adalah benar. Tetapi inspirasi bisa datang dari mana saja. Hati manusia yang sedih atau gembira, bisa saja menuliskan sesuatu. Nelson Mandela yang harus meringkuk di balik penjara di Afrika juga bisa menuliskan pemikiran cerdasnya tentang upaya penghapusan sistem Apartheid. Seorang penulis hanya membutuhkan sebuah ruang untuk menulis, sisanya dari kecerdasan pemikiran.
Selamat menulis.